Southeast Asian Documentary Competition

Children Of The Mist (Vietnam I 2021 I 92 Menit)

Best Director Award di ajang IDFA

18 Oct 19.30 Park 23 XXI Studio 2 (Q&A with Director)

Sinopsis

Di area pegunungan berselimut kabut Vietnam Utara, para gadis remaja suku Hmong seolah berjalan di atas garis tipis antara masa kanak-kanak dan tumbuh dewasa. Selama kurun waktu tiga tahun, gadis-gadis suku minoritas ini terpaksa harus kehilangan kepolosan mereka, menemukan jebakan rayuan dan berjuang untuk kemerdekaan mereka.

Director

HÀ Lệ Diễm lahir pada tahun 1991 di komunitas Tay, sebuah kelompok etnis di Vietnam Timur Laut. Dia meninggalkan kampung halamannya pada usia 18 tahun untuk belajar Jurnalisme di Universitas Ilmu Sosial dan Humaniora di Hanoi. Setelah menemukan film dokumenter melalui lokakarya inisiasi, dia memutuskan untuk mengabdikan waktunya untuk genre ini. Film dokumenter pendek debutnya “My Son Goes to School” (2013), tentang seorang ibu HIV-positif yang tinggal di desa pegunungan terpencil yang merawat putranya yang masih kecil, dianugerahi oleh Asosiasi Sinema Vietnam. Bersama  sekelompok seniman muda, Diem mengajar sekelompok anak-anak dari etnis minoritas Hmong di Vietnam Utara yang berpartisipasi dalam kelas melukis, pembuatan film, dan fotografi. ​Selama kursus ini, dia bertemu Di, gadis Hmong berusia dua belas tahun yang kemudian menjadi karakter utama ‘Children of the mist’, film panjang pertama Diem.

Foto

Trailer

The Flame (Indonesia I 2021 72 Menit)

Official Selection at Vision Du Reel, Switzerland

17 Oct 15.00 Park 23 XXI (Q&A with Director)

Synopsis

Pulau Barasak merupakan kawasan hutan terakhir di Desa Pilang, Kalimantan Tengah, setelah yang lainnya mengalami kebakaran dan diprivatisasi beberapa perusahaan. Iber Djamal (77 tahun), bagian dari masyarakat adat di tengah Kalimantan, mencoba menempuh jalan legal terbaik untuk melindungi hutan dengan berupaya mendapatkan sertifikat hutan adat yang sah untuk sisa hutan di wilayahnya. Iber Djamal berusaha mendapatkan pengakuan pemerintah atas status hutan adat Pulau Barasak. Meski kurang mendapat dukungan dari keluarga dan warga desa, ia tetap berusaha bertahun-tahun mengumpulkan semua dokumen yang dibutuhkan pemerintah untuk menerbitkan sertifikat hutan adat. Namun di tengah perjuangannya, tanah pribadi Iber direbut oleh orang lain. Ia pun harus memilih antara mengurus hutan Pulau Barasak atau sengketa tanahnya. Sementara itu, kebakaran hutan besar masih datang setiap tahun menyebabkan bencana lingkungan yang luar biasa. Di tengah situasi tersebut, Iber kadang ingin menyerahm namun ia menaruh harapan besar pada cucunya yang berusia 6 tahun, Demetri, yang mulai bertanya banyak hal tentang hutan dan berharap generasi selanjutnya tetap peduli untuk melindungi hutan adat mereka.

Director

Arfan Sabran adalah pembuat film dokumenter Indonesia dengan debutnya, “Suster Apung’’, memenangkan “Film Terbaik” dan “Film dengan Cinematografi Terbaik” di Eagle Awards tahun 2006. Film-film Arfan dikenal memiliki estetika visual yang kuat dan pemilihan karakter yang unik dan penuh warna, yang membuat penonton merasakan hubungan pribadi dengan film-filmnya. Debut film dokumenter panjang Arfan, “The Flame’’ (Bara), ditayangkan perdana di sebuah festifal film bergengsi, Visions du Réel Film Festival 2021 di Swiss, DMZ International Documentary Film Festival di Korea
Selatan, dan Singapore International Film Festival (SGIFF). Film dokumenter produksi terakhir Arfan adalah “Rabiah dan Mimi”, berhasil memenangkan pitching forum di Tokyo Docs Film Festival tahun 2019 dan berhasil mendapatkan internasional co-production dengan TBS Sparkle Tokyo dan tayang perdana di NHK Jepang. Saat ini Arfan sedang mempersiapkan versi panjang dokumenter “Ininnawa – an island calling” dan dipercaya menyutradarai satu seri dokumenter untuk Channel News Asia (CNA).

Photos

Trailer

Midwives (Myanmar I 2022 I 92 Menit)

Special Jury Award di Sundance Film Festival.

17 Oct 19.00 Park 23 XXI Studio 2

Sinopsis

Hla dan Nyo Nyo tinggal di negara yang dilanda konflik. Hla adalah seorang Buddhis dan pemilik klinik medis darurat di Myanmar barat, di mana kaum Rohingya (komunitas minoritas Muslim) dipersekusi dan ditolak hak dasarnya. Nyo Nyo adalah seorang bidan muslim yang magang sebagai asisten dan penerjemah di klinik tersebut. Kendatipun keluarga Nyo Nyo telah tinggal di daerah itu selama beberapa generasi, namun mereka masih dianggap sebagai penyusup. Dengan dukungan Hla, yang mempertaruhkan keselamatannya sendiri setiap hari dengan merawat para pasien Muslim ini, Nyo Nyo bertekad untuk menjadi penyedia layanan kesehatan yang tetap bagi komunitasnya.

Sutradara

Snow Hnin Ei Hlaing

Snow telah berkarir sebagai pembuat film paruh waktu di Myanmar sejak 2006 sebagai sutradara, produser, editor, dan perekam suara setelah menyelesaikan sekolah film di Myanmar dan Jerman. Film pendeknya, ‘BURMESE BUTTERFLY’ telah diputar di berbagai festival di lebih dari 20 negara, dan ‘PERIOD@PERIOD’ memenangkan film pendek terbaik di Festival Film Wathan. ‘MIDWIVES’ adalah film panjang dokumenter perdananya.

Foto

Trailer

Scala (Thailand I 2022 I 65 Menit)

Official Selection di Berlin Film Festival

19 Oct 17.30 Beachwalk XXI Studio 2 (Q&A with Director)

Sinopsis

Setelah Siam dan Lido, dua bioskop independen pertama di Siam Square lenyap dilalap api, Bioskop Scala menjadi bioskop independen terakhir di Bangkok yang masih beroperasi hingga akhirnya terkalahkan oleh Covid-19 pada tahun 2020. Tidak lama setelah pemutaran film terakhirnya, Scala dinyatakan akan dibongkar.

Ananta seorang pembuat film yang juga putri dari salah satu mantan karyawannya, mulai mengeksplorasi Scala dan secara tak terduga dihadapan pada kenangan masa kecilnya yang telah lama hilang ketika dia bertemu kembali dengan rekan-rekan lama ayahnya yang berkumpul untuk pekerjaan terakhir mereka yaitu membongkar tempat kerja mereka sendiri.

Sutradara

Ananta Tithanat

Lahir pada 30 Oktober 1982, di Bangkok, Thailand, Ananta tumbuh di bioskop Siam tempat ayahnya bekerja. Tindakan keras militer terhadap “Demo Kaus Merah” pada tahun 2010 menginspirasi Ananta dan Abhichon Rattanabhayon untuk mulai membuat film dokumenter pendek pertama mereka bersama tahun itu. Sejak saat itu, Ananta telah bekerja dengan Abhichon sebagai asisten sutradara dan sinematografer. ‘Scala’ adalah film panjang perdananya.

 

 

Foto

Trailer

Some Women (Singapore I 2021 I 69 Menit)

Official Selection at Singapore Film Festival

19 Oct 19.00 Beachwalk XXI Studio 2 (Q&A with Producer)

Sinopsis

Setiap orang pada suatu waktu pasti pernah merasa malu tentang sesuatu yang mereka lakukan. Tetapi apa yang akan Anda lakukan jika hal yang membuat Anda malu adalah menjadi diri Anda sendiri? Seorang sutradara wanita transgender menghadapi stigma dengan cara khas seorang pembuat film: dengan memutar kamera mengarah pada dirinya sendiri.

Sutradara

Quen Wong adalah seorang pembuat film Singapura. Pada tahun 2018, ia menyutradarai ‘Building Bridges’, salah satu dari lima film pendek yang dibuat untuk protes “Pink Dot Singapore” terhadap undang-undang 377A, yang mengkriminalisasi hubungan seks antara sesama jenis. Karya Quen juga mencakup ‘Power and Piety: The Hellfire Nation’ (2018), sebuah film esai tentang pengaruh evangelikalisme Kristen pada politik Amerika. Quen juga menyutradarai ‘Undercover Asia: Treatment or Torture’ (2014), sebuah investigasi pelanggaran hak asasi manusia yang diduga terjadi di pusat rehabilitasi narkoba di Kamboja yang ditayangkan di AETN Asia. Sebelumnya, Quen adalah seorang produser trailer peraih penghargaan dan pembuat konten di National Geographic Channel Asia.

 

Foto

Trailer

Copyright © 2026