Balada Si Roy (Indonesia| 2022 | 119 Menit)
| 18 Oct 17.30 Park 23 XXI Studio 2 (Q&A with Director) |

Sinopsis
Roy, seorang anak baru dari kota yang mencoba beradaptasi dengan kehidupan barunya di Serang. Roy selalu menjadi pusat perhatian. Dia tampan, keren, dan sedikit badung. Kepribadiannya sebagai anak baru menarik perhatian kumpulan geng di sekolah barunya. Perhatian itu dengan cepat berubah menjadi perseteruan ketika Roy mulai akrab dengan Ani, gadis tercantik di sekolah. Ternyata, Ani memiliki tempat khusus di hati bos geng sekolah yang terkenal garang, bernama Dullah.
Kehidupan Roy mulai berbalik arah. Perseteruannya dengan Dullah membawanya membentuk geng baru untuk melawan perundungan Dullah di sekolah. Roy dan gengnya terlibat dalam perkelahian geng, balapan motor liar, dan kehidupan malam yang nakal. Menyerah dan kehilangan seseorang bukanlah pilihan bagi Roy. Dia bertekad untuk bangun dan berjuang untuk menemukan jawaban atas pertanyaannya. Akhirnya, Meninggalkan rumahnya dan berpetualang sendiri adalah pilihannya untuk menemukan dirinya yang sebenarnya.
Sutradara
Fajar Nugros adalah seorang sutradara film asal Jakarta, Indonesia. Sepanjang karirnya, Fajar telah membuat beberapa film berlatarbelakang naratif sosial semacam ‘Jakarta Undercover Moammar Emka’, serta kisah cinta tentang minoritas di Indonesia berjudul ‘Terbang Menembus Langit’. Karirnya semakin melejit setelah menyutradarai film komedi berbahasa Jawa pertama berjudul ‘Yowis Ben’ di mana filmnya mencapai lebih dari 2 juta penonton dan dilanjutkan dengan sekuelnya.
Bersama IDN Pictures, Nugros terus membuat film-film seperti ‘Srimulat: Hil Yang Mustahal’, otobiografi grup komedi ternama di tanah air serta ‘Inang’ (The Womb), film horror pertamanya.
Foto
Trailer
Galang (Indonesia | 2022 | 103 Menit)
| 19 Oct 15.30 Beachwalk XXI Studio 2 (Q&A with Director) |

Sinopsis
Setelah kehilangan kakak perempuannya dalam kerusuhan yang terjadi di sebuah konser musik underground, seorang pria muda mencoba bergabung dengan grup tersebut untuk menemukan alasan dan jawaban atas rasa bersalahnya.
Sutradara

Adriyanto Dewo membuat film pendek pertamanya pada tahun 2008, salah satu film pendek karyanya ‘Menunggu Warna’ (2011) memenangkan film pendek terbaik di Hanoi International Film Festival. Film panjang pertamanya, ‘Tabula Rasa’ (2014) diputar di berbagai festival film termasuk Shanghai International Film Festival, dan Bucheon International Fantastic Film Festival. Ia meraih gelar Sutradara Terbaik di Festival Film Indonesia 2014. Pada tahun 2016, ia menulis film panjang keduanya, ‘Mudik/Homecoming’ (2019), ditayangkan perdana di Macau International Film Festival 2019 untuk kategori Kompetisi Internasional serta memenangkan Piala Citra untuk Skenario Terbaik di FFI 2020. Karya selanjutnya ‘One Night Stand’ (2021) tayang di Bioskop Online, sebuah platform OTT Indonesia.
Foto
Trailer
Potret Mimpi Buruk (Indonesia | 2022 | 84 Menit)
| 18 Oct 15.30 Park 23 XXI Studio 2 (Q&A with Director) |

Sinopsis
Hujan, seorang perempuan muda yang memiliki trauma, bertemu dengan seniman jalanan bernama Bayu, takdir mereka terjalin karena dihantui oleh mimpi buruk yang sama, yang menghubungkan mereka pada masa lalu mereka masing-masing.
Sutradara

Ismail Basbeth
Lahir di Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia pada tahun 1985. Dia adalah pembuat film otodidak, artis, penulis dan penyanyi-penulis lagu, alumni Berlinale Talent Campus di Jerman dan Asian Film Academy di Korea Selatan di mana dia memenangkan Dana Beasiswa BFC & SHOCS. Sejak tahun 2005 berkecimpung di dunia perfilman kemudian memproduksi dan menyutradarai berbagai film pendek dan film layar lebar yang menjadi sorotan di berbagai festival film bergengsi nasional dan internasional. Dia adalah produser dan pendiri Matta Cinema, sebuah rumah produksi alternatif yang berfokus pada produksi film artistik berbasis penonton dengan bekerja sama dengan sutradara unik dan kreatif untuk penonton global. Ia juga seorang produser, seniman dan pendiri Bosan Berisik Lab, sebuah yayasan nirlaba berbentuk laboratorium antar disiplin ilmu yang memberdayakan para pembuat film, seniman, dan penulis muda untuk menciptakan karya kreatif dan eksperimental di berbagai media. Ruang Basbeth adalah perusahaan penerbitannya sekaligus ruang pribadinya dalam mengeksplorasi penulisan bebas, narasi dan penceritaan dalam konteks kegiatan sosial dan budaya sebagai seniman, pembuat film, penulis dan penyanyi-penulis lagu.
foto
Trailer
Death Knot by Cornelio Sunny (Indonesia | 2021 | 103 Menit)
| 17 Oct 17.00 Park 23 XXI Studio 2 (Q&A with Director) |

Sinopsis
Hari bersama saudara perempuannya Eka dan tunangannya Adi, melakukan perjalanan kembali ke desa setelah menerima berita tentang kematian ibu mereka akibat bunuh diri. Sementara para anggota keluarga mencoba mengatasi kesedihan mereka serta menemukan solusi untuk rumah warisan keluarga, mereka dihadapkan akan kepercayaan takhayul penduduk setempat, dan Hari mulai mempertanyakan penyebab kematian ibu mereka.
Sutradara

Cornelio Sunny
Cornelio Sunny (lahir 15 April 1985) adalah seorang aktor dan pembuat film Indonesia. Dia adalah pendiri Matta Cinema. Film panjang pertamanya sebagai produser/aktor berkompetisi di Festival Film Internasional Rotterdam Tiger Awards pada tahun 2012. Pada tahun 2014 Sunny menjadi terkenal dengan memainkan peran utama dalam film aksi blockbuster Indonesia ‘3 Alif Lam Mim’.
Sebagai aktor Sunny dikenal dengan film-film artistiknya seperti ‘The Carousel Never Stops Turning’, ‘Another Trip To The Moon’, ‘Yokudo’. Dengan Matta Cinema ia memproduksi film ‘Arini’, ‘Taufiq’, ‘The Portrait of A Nightmare’ Pada tahun 2019 Sunny adalah bagian dari program Producers Network di Cannes International Film Festival.
Pada tahun 2020 Sunny melakukan debut penyutradaraan pertamanya dengan film ‘Death Knot’ yang berkompetisi di Udine FEFF 2021 untuk sutradara film panjang pertama terbaik, dan menang di Jakarta Film Week untuk sutradara film panjang terbaik dengan perhatian khusus. Film ini direncanakan rilis pada 2022.
Foto
Trailer
Tegar (Indonesia | 2022 | 92 menit)
| 17 Oct 13.00 Beachwalk XXI Studio 2 (Q&A with Director and Producer) |

Sinopsis
Tegar, seorang anak berkebutuhan khusus berusia 10 tahun berkeinginan untuk bisa bersekolah. Sang Kakek yang selama ini setuju dengan keinginan Tegar, telah meninggal dunia. Sayangnya Ibu Tegar, Wida tidak sependapat dengan Kakek, sehingga Tegar harus mengubur mimpinya untuk bisa sekolah dan berteman. Wida sibuk dengan pekerjaannya, sehingga dia harus menitipkan Tegar kepada Isy seorang pengasuh. Suatu hari Isy terpaksa harus kembali ke kampung halamannya untuk merawat ibunya yang sakit. Tegar yang ditinggalkan harus berjuang untuk bertahan hidup di rumah seorang diri. Akhirnya, Tegar memutuskan untuk meninggalkan rumah dan melakukan perjalanan untuk mewujudkan impiannya yang sederhana untuk bisa bersekolah dan berteman.
Director

Anggi Frisca lahir pada tahun 1984. Anggi memulai karirnya sebagai sinematografer pada tahun 2011. Ia semakin dikenal sebagai sinematografer wanita Indonesia pertama yang menerima penghargaan internasional. Sampai hari ini, Anggi sudah mengantongi beberapa nominasi untuk beberapa filmnya. Sejak mulai menyutradarai film, dia terus belajar dan meningkatkan intuisinya untuk mengembangkan keterampilannya sebagai pembuat film. Tegar adalah film kedua yang disutradarai Anggi.




















