Ajoomma (Singapura/Korea Selatan I 2022 I 90 Menit)
Dalam New Currents Competition di Festival Film Busan 2022
| 18 Oct 19.30 Beachwalk XXI Studio 2 (Q&A with Director) | 20 Oct 13.00 Park 23 XXI Studio 2 |

Sinopsis
Seorang janda setengah baya dari Singapura yang terobsesi dengan drama Korea pergi keluar negeri untuk pertama kalinya ke Seoul, namun akhirnya tersesat.
Perjalanannya ternyata menjadi proses penemuan jati diri yang tak terduga, saat dia mulai belajar berdamai dengan kehidupan yang benar-benar dia inginkan untuk dirinya sendiri, di luar perannya sebagai seorang anak perempuan, istri dan ibu.
Sutradara

He Shuming adalah seorang penulis-sutradara dari Singapura. Lulusan Puttnam School of Film & Animation, LASALLE College of the Arts Singapura dan kemudian di American Film Institute Conservatory (AFI), di mana dia menyelesaikan MFA-nya dalam penyutradaraan. AJOOMMA adalah film panjang perdananya.
Baru-baru ini, ia dianugerahi Penghargaan “Young Artist Award” oleh National Arts Council, salah satu penghargaan paling terhormat untuk bidang seni di Singapura.
foto
Arnold Is a Model Student (Thailand/Singapura/Prancis/Belanda/Filipina I 2022 I 86 Menit)
Filmmakers of The Present Competition di Locarno Film Festival 2022
| 18 Oct 15.30 Beachwalk XXI Studio 2 (Q&A With Director) |

Sinopsis
Arnold adalah siswa pintar yang telah memenangkan banyak penghargaan akademik. Suatu hari, ia bertemu Bee yang menjalankan bisnis bawah tangan membantu para siswa bermain curang agar bisa lulus ujian. Bee meminta Arnold untuk bergabung dengannya dengan imbalan uang banyak. Sementara Arnold mempertimbangkan tawaran ini, para siswa lain yang tidak puas dengan kebijakan sekolah yang dianggap tak berpihak terhadap kebebasan siswa sedang sibuk mengorganisir demo akbar.
Sutradara

Sorayos Prapapan
Sorayos PRAPAPAN (lahir 1986, Thailand) adalah seorang pembuat film independen. Dia telah menyutradarai beberapa film pendek yang telah memenangkan penghargaan di negara asalnya dan telah diputar di banyak festival film internasional termasuk Venesia, Locarno, Rotterdam dan Clermont-Ferrand. Film panjang perdananya ‘Arnold Is A Model Student’ dipilih untuk Locarno Film Festival 2022.
foto
Trailer
Everything Will Be Ok (France/Cambodia I 2022 I 98 menit)
Penghargaan Outstanding Artistic Contribution Award di Berlin Film Festival 2022
| 17 Oct 15.00 Beachwalk XXI Studio 2 |

Sinopsis
Bayangkan jika hewan mengambil alih kekuasaan di muka bumi ini. Apakah mereka akan berperilaku sama seperti manusia? Akankah mereka membuat kesalahan yang sama, akankah mereka bersaing untuk kekuasaan, memerintah dengan teror, melahap segalanya? Karya seni macam apa yang akan mereka tampilkan? Akankah bumi ini menjadi lebih damai?
Sutrdara

RITHY PANH
Lahir di Phnom Penh, Kamboja, Rithy Panh bermigrasi ke Paris pada 1980 karena melarikan diri dari praktek genosida rezim Khmer Merah. Dia lalu menempuh pendidikannya di IDHEC. Pada tahun 2003, ‘S21, The Khmer Rouge Killing Machine’, sebuah film dokumenter yang mendapat banyak penghargaan, mengulas kebijakan penghapusan sistematis yang diatur oleh Khmer Merah antara tahun 1975 dan 1979. Pada tahun 2006, ia mendirikan Bophana Center, yang memungkinkan pengarsipan warisan audiovisual Kamboja dan pelatihan profesional bagi para pelakunya. Pada 2013, filmnya ‘The Missing Picture’ terpilih sebagai film Kamboja pertama yang dinominasikan untuk Oscar, untuk film berbahasa asing terbaik. Film terbarunya ‘Irradiated’, dalam kompetisi di Berlinale 2020, menerima penghargaan untuk film dokumenter terbaik. Rithy Panh juga menulis beberapa buku termasuk “The Elimination” dan “Peace with the Dead” dengan Christophe Bataille yang diterbitkan oleh Grasset.
foto
Trailer
Leonor Will Never Die (Philippines I 2022 I 99 Menit)
Innovative Spirit Special Jury Prize di Sundance Film Festival 2022
| 20 Oct 13.00 Beachwalk XXI Studio 2 (Q&A with Director) |

Sinopsis
Leonor Reyes sempat berperan besar dalam industri film Filipina setelah berhasil membuat sejumlah film laga yang sukses, namun sekarang sedang menghadapi krisis keuangan. Saat menemukan iklan pencarian naskah film, Leonor kembali mengutak-atik skenario yang belum selesai ditulisnya tentang petualangan Ronwaldo, seorang bangsawan muda yang terpaksa harus membalas dendam atas pembunuhan saudaranya di tangan sekumpulan preman. Dalam prosesnya, sebuah kecelakaan yang melibatkan televisi membuat Leonor jatuh dalam keadaan koma, dan membawanya masuk ke dalam cerita sebuah film. Sekarang Leonor dapat mewujudkan mimpi terliarnya secara langsung dan menuntaskan akhir yang sempurna untuk skenarionya.
Sutrdara

Martika lahir di Manila pada tahun 1992. Kecintaannya pada hal-hal yang tidak biasa tercermin melalui karya-karya film dan fotografinya. Setelah lulus dengan pujian dari University of the Philippines, tesisnya “Stone Heart”, berkompetisi di 19th Busan International Film Festival dan diputar di seluruh dunia. Juga memenangkan Film Terbaik di ajang Cinemalaya. Karya terbarunya, “Quadrilaterals,” ditayangkan perdana di DMZ Docs ke-9.
Martika adalah alumni Berlinale Talents Tokyo, Asian Film Academy, Southeast Asian Film Lab, Luang Prabang Talent Lab, Fantastic Film School, Mowelfund Film Institute dan merupakan penerima Purin Film Fund. Saat ini Martika berkarya sebagai sutradara lepas/sinematografer untuk berbagai rumah produksi di Manila.
Foto
Trailer
Maika (Vietnam I 2022 I 105 Menit)
Official Selection di Sundance Film Festival 2022
| 18 Oct 17.30 Beachwalk XXI Studio 2 |

Sinopsis
Hung seorang bocah lelaki berusia 8 tahun seolah selalu ditimpa berbagai kesialan, selain masih berduka karena kehilangan ibunya, yang meninggal setahun lalu, hubungannya dengan ayahnya tidak terlampau baik, sahabat baiknya harus berpindah kota, dan yang terburuk; pemilik apartemen yang tamak memaksa Hung dan ayahnya untuk keluar dari tempat tinggal mereka. Setiap malam Hung mencari pelarian atas segala problematikanya dengan memandang langit dari atap gedung apartemennya. Suatu malam, saat terjadi hujan meteor, sebuah bintang jatuh mendarat di desa terdekat. Hung kecil tergerak untuk menyelidiki, tetapi alih-alih menemukan bintang jatuh, dia justru bertemu sesosok teman baru, dan dia memutuskan untuk melakukan semua yang dia bisa untuk membantunya. ‘MAIKA’ terinspirasi oleh acara TV anak-anak produksi tahun 1978 dari Cekoslowakia yang sangat populer di Vietnam pada awal tahun 90-an. Dengan suguhan pemandangan indah, narasi cepat, dan penokohan yang karismatik, film fiksi ilmiah Vietnam untuk anak-anak ini adalah petualangan menyenangkan yang menyentuh tema universal tentang persahabatan, keluarga, dan kasih sayang.
Sutradara

Hàm Trần menerima gelar MFA dalam Penyutradaraan dari UCLA School of Film and Television. Dua film pendek pertamanya ‘The Prescription’ dan ‘Pomegranate’ adalah finalis untuk Student Academy Awards®, dan film tesisnya ‘The Anniversary’ masuk dalam daftar pendek untuk Academy Awards® 2004 untuk Best Live Action Short. Tak hanya menghasilkan banyak film box office di Vietnam, Tran juga menulis, menyutradarai, sekaligus mengedit 6 film layar lebarnya sendiri. Film pertamanya, ‘Journey from the Fall’, ditayangkan perdana di Sundance Film Festival 2006 yang bergengsi dan pada 2019 terdaftar oleh LA Times sebagai satu dari “20 Asian American Cannon Films in the Last 20 Years”. Pada tahun 2022 ini, Tran kembali ke Sundance dengan film sci-fi keluarga, ‘Maika’.
Foto
Trailer
MEMENTO MORI: EARTH (Vietnam I 2022 I 85 Menit)
Dalam New Currents Competition di Busan Film Festival 2022
| 19 Oct 19.00 Park 23 XXI Studio 2 (Q&A with Producer) |

Sinopsis
Kisah tentang VÂN yang sedang terbaring sakit parah. Berkelebatan di antara kenyataan, kenangan, dan alam mimpi, dia mencoba merekam pesan perpisahan untuk putrinya. VÂN juga memiliki keinginan terakhir untuk mendonorkan organ tubuhnya setelah meninggal nanti, namun sayangnya keinginannya tersebut tidak disetujui baik oleh sang suami; HOÀNG maupun oleh ayahnya.
Sutradara

Marcus Manh Cuong VU adalah seorang sarjana lulusan Berlin (Jerman) dan Paris (Prancis). Dia memulai karirnya sebagai reporter film dari pelbagai festival film internasional untuk media Vietnam. Dari 2010 hingga 2014 ia menjabat sebagai direktur festival Yxine Film Fest (YxineFF) – sebuah festival film pendek internasional perintis dalam format hybrid. Sejak 2015 ia telah mengambil bagian aktif dalam industri film Vietnam dalam berbagai peran: penulis, produser, sutradara. Sebagai seorang programmer, ia telah mengkurasi film pendek untuk S-Express, SEAShorts, Asian Film Symposium selama bertahun-tahun. MEMENTO MORI: EARTH (2022) adalah film panjang debutnya dan akan tayang perdana di dunia dalam New Currents of Busan International Film Festival pada Oktober 2022. Marcus saat ini sedang mengerjakan film panjang keduanya MEMENTO MORI: WATER yang terpilih untuk Asian Project Market BIFF 2021.
Foto
Trailer
Nana (Indonesia I 2022 I 103 Menit)
Best Supporting Actress untuk Laura Basuki di Berlin Film Festival 2022
| 19 Oct 15.00 Park 23 XXI Studio 2 | 20 Oct 19.30 Beachwalk XXI Studio 2 (Q&A with Director) |

Sinopsis
Tahun 1960-an di Indonesia adalah periode perubahan dan kekacauan politik yang dramatis, dengan kudeta Suharto yang menggulingkan Sukarno dan serta gerakan anti-komunis yang brutal. Nana, seorang wanita muda yang lembut dan cantik, adalah salah satu korban dari konflik tersebut. Suaminya diculik dan dibawa ke hutan, dan meskipun Nana berhasil melarikan diri dari pemimpin gerombolan yang memaksanya untuk menikahinya, insiden tersebut tak urung merenggut nyawa ayahnya serta membuatnya jatuh miskin. Beberapa tahun berselang, Nana kini hidup nyaman sebagai istri kedua seorang pria kaya dan mulai bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Tapi masa lalu Nana muncul kembali menghantuinya.
Sutradara

Kamila Andini
Lahir di Jakarta, Indonesia pada 1986, Kamila Andini belajar sosiologi dan seni media di Deakin University Melbourne, Australia. Film-filmnya berfokus pada topik sosiokultural, kesetaraan gender, dan masalah lingkungan. Debut penyutradaraannya ‘The Mirror Never Lies’, tentang kehidupan para pengembara laut Indonesia, diputar di Berlinale Generation 2012. Film panjang keduanya ‘The Seen and Unseen’ memenangkan Grand Prix of the Generation Kplus International Jury pada tahun 2018 sementara film ketiganya, drama remaja ‘Yuni’, memenangkan Platform Prize di Toronto International Film Festival 2021
Foto
Trailer
Alang-Alang (Indonesia I 2022 I 105 Menit)
| 19 Oct 17.00 Park 23 XXI Studio 2 (Q&A with Director) |

Sinopsis
Huda, seorang pencuri di tempat pelelangan ikan, memutuskan untuk meninggalkan rumahnya sejak ibunya meninggal selain sudah tak tahan akan perilaku kasar ayahnya yang alkoholik. Kerasnya kehidupan di tempat pelelangan membuat Huda ingin mewujudkan mimpinya menangkap ikan emas di laut. Sri, seorang kolektor ikan yang akrab dengan Huda menganggap ‘ikan emas’ hanyalah mitos belaka. Namun, Huda semakin yakin jika berhasil menangkap ikan emas, hidupnya akan menjadi lebih baik. Huda mencoba segala kemungkinan. Sayangnya, semua orang dewasa di sekitarnya, termasuk ayahnya sendiri, tidak peduli dengan keinginannya. Huda benar-benar frustrasi. Pada akhirnya, Huda harus memilih, apakah bertahan di tempat pelelangan ikan dengan sedikit harapan yang tersisa atau pergi mencari ikan emas untuk mewujudkan mimpinya.
Sutradara

Khusnul khitam adalah seorang sutradara kelahiran tahun 1982. Ketertarikannya pada dunia perfilman dimulai sejak ia masih kecil karena kerap diajak menonton film oleh ayahnya. Dia membuat film pendek pertamanya pada usia 20, dengan meminjam kamera lama dari mantan teman kuliahnya. ‘Debt’, ‘Ramadhan Charity Box’, ‘Mouse’ adalah beberapa film pendek yang ia tulis dan sutradarai. Film dokumenter panjang pertamanya, ‘Pulejajar’, dipresentasikan di festival film dokumenter-FFD dan festival film Internasional WaterDocs. ‘Alang-alang’ (Suara Dari Laut) adalah film panjang pertamanya yang proses pengambilan gambarnya berlangsung di kampung halamannya di pantai utara Pulau Jawa dengan menggunakan aktor non-profesional sebagai karakter utama.
Foto
Trailer
Stone Turtle (Malaysia/Indonesia I 2022 I 91 Menit)
Fipresci Prize di Locarno Film Festival 2022
| 17 Oct 19.00 Beachwalk XXI Studio 2 | 20 Oct 15.00 Park 23 XXI (Q&A with Director and Actor) |

Sinopsis
Zahara, seorang pengungsi tanpa kewarganegaraan, tinggal di sebuah pulau kecil terpencil di Malaysia dimana dia mencari nafkah dengan menjual telur penyu. Suatu hari, Samad, yang mengaku sebagai seorang peneliti dari sebuah universitas, mengunjungi pulau itu dan menawarkan Zahara untuk menjadi pemandunya. Seiring waktu, Zahara dan Samad jatuh
Terjerat dalam konflik penuh tipu daya.
Memadukan drama sosial dengan genre aksi, horor, dan animasi, ‘Stone Turtle’ membawa kita dalam perjalanan emosional yang tak biasa.
Sutradara

Woo Ming Jin
Salah satu perintis “Malaysian New Wave”, Woo Ming Jin adalah sutradara pertama dalam sejarah perfilman Malaysia yang pernah mewakili negaranya dalam “Tiga Besar Festival Film Internasional”, yakni; Cannes, Berlin dan Venesia.
Film pertama Woo ‘Monday Morning Glory’ (2005) maju ke Berlin, film keduanya ‘Elephant and the Sea’ (2007) memenangkan penghargaan di Torino dan Spanyol, film ketiganya ‘Woman on Fire Looks for Water’ (2009) adalah film panjang Malaysia kedua yang terpilih untuk Venice Orrizonti, sedangkan Tiger Factory (2010) menjadi wakil Malaysia ke Cannes.
Foto
Trailer
Whether The Weather Is Fine by Carlo Francisco Manatad (Filipina/Prancis/Singapura/Indonesia/Jerman/Qatar I 2021 I 104 Menit)
Youth Jury Prize at Locarno Film Festival
| 17 Oct 17.00 Beachwalk XXI Studio 2 (Q&A with Director) |

Sinopsis
Seusai badai Haiyan yang menerpa negeri, Miguel menyisiri puing-puing kota yang porak poranda untuk mencari dua wanita dalam hidupnya: sahabatnya Andrea dan ibunya, Norma. Begitu dia menemukan keduanya, Miguel mencoba meyakinkan mereka untuk meninggalkan kota yang sudah tidak layak huni. Seolah berpacu dengan waktu muncul desas-desus tentang kemungkinan datangnya badai susulan. Miguel harus memutuskan apakah akan tetap tinggal untuk membujuk orang yang dicintainya untuk turut serta atau meninggalkan kota sendirian sebelum bencana berikutnya datang meluluhlantakkan satu-satunya rumah yang dia miliki.
Sutradara

Carlo Francisco Manatad adalah seorang sutradara dan editor film berkebangsaan Filipina yang tinggal di Manila. Ia adalah lulusan University of the Philippines Film Institute. Film pendek karyanya telah diputar di berbagai festival film lokal dan internasional. ‘Junilyn Has’, film pendek pertamanya ditayangkan perdana di Festival Film Locarno. ‘Jodilerks Dela Cruz, Employee of the Month’, film pendek keempatnya terpilih dalam kompetisi di Semaine de la Critique of the Cannes International Film Festival ke-56. Baga’t Diri Tuhay Tat Pamahungpahung (The Imminent Immanent) tayang perdana dalam kompetisi di Toronto International Film Festival 2018. Sebagai salah satu editor paling produktif di Filipina saat ini, ia telah berkolaborasi dengan banyak pembuat film film independen dan studio. Carlo adalah alumnus Asian Film Academy, Berlinale Talents, Tokyo Talents dan Locarno Filmmakers Academy. ‘Whether the Weather is Fine’ (Kun Maupay Man It Panahon) adalah film panjang pertamanya.








































